Bencana Lagi-Bencana Lagi, Ada Apa Dengan Bumi Indonesia ?
(Hikmah Dibalik Bencana Melingkari Ibu Pertiwi)
Bencana dan Bencana
Tulisan ini adalah bagian dari keprihatinan penulis terhadap kejadian-kejadian memilukan pada periode pemerintahan SBY-JK yang dipenuhi dengan banyaknya bencana melingkari bumi pertiwi. Padahal masa-masa sekarang ini tengah gencar digalakkannya upaya pembangunan di negeri ini dengan berbagai cara dan metode demi kesejahteraan rakyat. Lagi-lagi di penghujung tahun 2007 bangsa Indonesia mengalami hembasan gelombang bencana yang hampir merata di seantero negeri. Dulu di tahun-tahun 2004-2006 musibah banjir masih melanda Jakarta dan sekitarnya, namun di akhir tahun 2007 musibah banjir juga harus dirasakan oleh masyarakat di Solo dan sekitarnya karena meluapnya sungai bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo menampakkan “kemarahannya” karena memang sudah tidak kuat menahan beban air yang mengalir sepanjang kurang lebih 600 km dengan melawati sekitar 20 kota/ kabupaten (sampai Jawa Timur), semua tergenang air. Di samping itu, masih ditambah lagi dengan adanya musibah tanah longsor yang terjadi di Tawangmangu Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri. Musibah banjir dan tanah longsor ini dimulai pada tanggal 26 Desember 2007 yang lalu, musibah ini juga mengingatkan kita pada kejadian yang baru saja diperingati yaitu musibah Tsunami yang melanda masyarakat di Nangro Aceh Darussalam (NAD).
Di setiap bencana tentu meninggalkan duka, luka, kerugian jiwa ataupun material yang tidak terhingga. Bahaya rawan penyakit, syok, trauma bagi warga korban bencana menjadi dampak yang tidak ringan yang harus juga dirasakan. Kejadian-kejadian juga meninggalkan kerusakan pada sarana-sarana publik secara serius seperti jalan, jembatan, tempat pendidikan, sarana peribadatan dan lain sebagainya. Kondisi ini sungguh sangat memilukan karena yang menjadi korban adalah rakyat yang sampai sekarang masih berada di tengah-tengah keterpurukan masih juga harus merasakan beban berat di sana-sini. Untuk mencukupi kebutuhan pokok saja sulit, apalagi masih ditimpa musibah seperti ini.
Apa yang sesungguhnya terjadi ?, kenapa negeri yang subur makmur seperti Indonesia selalu dirundung musibah ?, apakah memang Tuhan telah marah melihat tingkah kita yang memang bangga dengan salah dan dosa-dosa ?, apakah terdapat hubungan kausalitas antara musibah dengan perilaku manusia ?. Ini merupakan pertanyaan panjang yang sulit jawabannya. Semua berujung pada sebuah pertanyaan besar, kenapa bisa terjadi ?
Hilangnya harmoni alam
Pengurasan sumber daya alam dengan cara-cara yang merusak telah mengakibatkan rusaknya keseimbangan ekologis. Ketika kawasan hutan musnah, maka tidak hanya flora dan fauna saja yang hilang, namun akan menyebabkan terjadinya rentetan banjir, tanah longsong dan kekeringan yang berakibat pada tertelannya korban jiwa dan kerugian material yang tidak sedikit.
Eksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang dilakukan tanpa memperhatikan aspek-aspek kelestarian dan daya dukung lingkungan telah menyebabkan perubahan kondisi lingkungan hidup secara sangat cepat dan massif. Kondisi ini menyebabkan masyarakat berada pada kondisi yang rentan. Bencana terjadi ketika masyarakat tidak dapat mengatasi kerentanan tersebut. Namun untuk konteks saat ini dimana laju kerusakan lingkungan hidup sangat cepat, maka harus dilakukan pula percepatan terhadap proses adaptasi masyarakat, untuk meminimalisir dampak (damage control).
Alam sangat membutuhkan perlakuan yang arif dari penghuninya. Artinya adalah bagaimana manusia yang mendiami bumi haruslah memikirkan agar kekayaan alam yang dimiliki tidak dieksploitir secara membabi buta tanpa memperhitungkan keberlangsungannya. Sikap arif ini sangat diperlukan mengingat apa yang telah tersurat dalam sebuah ayat Alqur’an bahwa kerusakan yang terjadi di belahan bumi dan laut adalah karena perilaku manusia dengan segala tindakan mereka. Faktor lingkungan tidak pernah dilihat sebagai bagian yang integral dalam pembangunan, terus dieksploitasi demi meningkatkan devisa dan mendongkrak pendapatan, namun hal itu tidak dibarengi dengan penyelamatan dan rehabilitasi.
Bencana yang terjadi sekarang ini bukanlah semata-mata merupakan takdir Tuhan, akan tetapi lebih dikarenakan pada proses pembangunan yang dilakukan tidak pernah bercermin pada proses pengrusakan dan perilaku manusia yang sampai sekarang masih terus dilakukan. Sehingga kondisi ini akan memberikan dampak pada timbulnya kerentanan bencana.
Hikmah apa yang bisa dipetik
Dari sekian rentetan kejadian musibah, tentu terdapat hikmah dibalik itu. Ini saat yang tepat untuk melakukan refleksi dan merenung kembali tentang hikmahnya. Sehingga kita dapat mengetahui agenda-agenda apa yang harus dilakukan bersama untuk membantu mereka yang menjadi korban bencana tersebut. Untuk mengatasi bencana tersebut memang tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah saja, tentu tidak akan mampu.
1. Mendorong kepekaan dalam pembuatan kebijakan pembangunan terhadap keseimbangan ekologis.
Kepekaan terhadap keseimbangan ekologis ini dilakukan tidak hanya pada saat terjadinya bencana, namun sebelumnya juga haruslah diperhatikan. Artinya adalah bagaimana mengelola sumber daya alam tidak saja menitikberatkan pada upaya untuk mendapatkan devisa yang tinggi namun mengakibatkan kerugian dengan rusaknya sistem keseimbangan ekologis sehingga dapat menyebabkan terjadinya bencana. Terkait dalam hal ini adalah bagaimana membuat skenario kebijakan pembangunan dengan memperhatikan prinsip-prinsip rehabilitasi sumber daya alam yang semakin lama semakin rusak.
Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu yang lalu di Indonesia menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang pemanasan global di Bali. Ini menjadi peringatan bagi negara-negara di dunia untuk selalu mempertimbangkan aspek pelestarian alam. Konferensi tersebut baru saja berakhir di Indonesia telah terjadi rentetan bencana yang terjadi di sebagian besar kawasannya.
Agenda besar membuat skenario kebijakan tersebut adalah pihak pemerintah dan para pemilik modal agar jangan sampai terlalu memaksakan kepentingannya dan mengabaikan tingkat kesejahteraan masyarakat.
2. Kepedulian sosial dalam penanganan bencana
Belajar dari pengamatan penulis terhadap penanganan banjir yang terjadi di wilayah Solo dan beberapa tempat di Jawa Timur, serta pengamatan terhadap sebuah lembaga sosial yang bernama SH Center Peduli Rakyat. Pelajaran yang dapat dipetik dan perlu untuk dicermati adalah pada persoalan bagaimana menyediakan sarana kebutuhan dalam pengungsian. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, mengingat banyaknya tingkat kerugian yang ditimbulkan. Mulai dari bangunan pribadi, sarana/ fasilitas publik dan dampak psychologis. Di antaranya adalah pemenuhan kebutuhan dasar yang semakin sulit. Adapun bentuk-bentuk kebutuhan dasar tersebut kurang lebih sebagai berikut ;
a. Dari banyaknya warga yang menggunakan jalan-jalan, kantor kelurahan dan tempat-tempat lain menunjukkan tidak pernah disiapkan kemana warga harus mengungsi ketika banjir terjadi.
b. Air bersih merupakan kebutuhan vital bagi para pengungsi mengingat sarana-sarana air bersih yang dimiliki oleh warga telah terkontaminasi dengan air sungai dan lumpur. Tentu hal ini sangat menyulitkan warga untuk mengkonsumsi air kotor.
c. Banjir yang terjadi sejak tanggal 26 Desember lalu yang begitu cepat tidak memberi kesempatan bagi warga untuk menyelematkan bahan pangan. Minimnya bantuan makan dari masyarakat semakin mempersulit warga untuk dapat memperoleh bahan pangan yang memadai Makanan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Setiap mahluk hidup butuh suplemen untuk bisa bertahan hidup atau tetap sehat. Paling tidak makanan yang mengandung gizi, sebab kekurangan gizi akan memudahkan orang menjadi sakit.
d. Pelayanan kesehatan adalah keniscayaan. Dalam pengungsian warga yang hidup dalam keterbatasan fasilitas daya tubuh akan melemah. Tekanan psikologis atas beban yang dihadapi secara spontan juga sangat berpengaruh pada kesehatan warga. Apalagi kebutuhan dasar seperti air bersih, tempat hunian dan pangan tidak terpenuhi. Adapun beberapa penyakit yang seringkali timbul dalam musibah banjir di antaranya adalah diare, ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), campak, kolera, gizi buruk. Penyakit ini seringkali lahir karena kondisi lingkungan yang berada di ambang batas bersih dan sehat.
3. Pemulihan kondisi
Paska kejadian bencana adalah fase yang cukup menentukan bagi keberlanjutan pengelolaan risiko bencana. Namun pada kenyataannya di banyak kasus, fase ini tidak dianggap penting. Pemerintah sendiri cenderung melawati fase ini dan langsung menuju ke fase pembangunan kembali. Dari pengalaman yang ada, fase recovery atau pemulihan jika dilakukan dengan baik bisa menjagi bagian mengurangi risiko dan dampak bencana pada waktu yang akan datang. Memperkuat masyarakat untuk berbuat lebih dalam mereduksi risiko bencana.
Kejadian yang masih membekas, akan mengantarkan komunitas rentan lebih peduli menghadapi risiko bencana. membangun kesiapsiagaan, memetakan sumber-sumber ancaman dan kawasan rawan serta komuntias rentan misalnya. Atau membangun kesiapsiagaan di tingkat komunitas. Fase recovery juga dapat menjadi pintu masuk membangun daya kritis warga atas haknya.
Untuk itu, sangat diperlukan upaya pembangunan kesiapsigaan ditingkat warga masyarakat terhadap ancaman banjir. Bencana banjir yang terjadi bukan lah takdir. Takdirnya bukan menjadikan banjir sebagai bencana. karena ketidak siapan, ketidak pedulian serta pembiayaran atas hak-hak rakyatlah yang menyebabkan banjir menjadi bencana.
4. Pembaharuan sistem penanganan bencana
Kecepatan dan ketepatan adalah persoalan utama dalam penanganan emergency respone. Guna mewujudkan itu sangat diperlukan sebuah sistem yang baik dan disepakati bersama baik oleh pemerintah maupun organ masyarakat. Koordinasi adalah salah alat untuk menyamakan pandangan dan membangun kesepakatan dalam penanganan bencana.
Dalam kejadian musibah kemarin, memang organ-organ masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap bencana tidak ada yang mengkoordinir, semua berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan wilayah mana yang dapat dijangkau. Sementara pengaturan mengenai wilayah mana yang menjadi skala prioritas utama tidak dapat ditentukan sehingga warga yang berada di lokasi paling parah justru tidak mendapatkan penanganan secara cepat.
Bagaimana koordinasi harus dilakukan mestinya pemerintah harus memfasilitasi sehingga nantinya terwujud langkah-langkah antisipasi terhadap segala kemungkinan yang ada ketika bencana itu datang secara tiba-tiba. Di wilayah Solo mungkin hanya banjir saja, tidak pernah ada bencana longsor karena secara geografis memang tidak ada dataran tinggi. Namun untuk beberapa wilayah di sekitar Solo seperti Wonogiri, Sukoharjo, dan Karanganyar mempunyai potensi bencana yang lebih besar, seperti banjir, tanah longsor dan angin ribut. Memang kelemahan kita adalah belum adanya unit pelayanan cepat terhadap penanganan bencana di setiap wilayah kabupaten dan kota.
P e n u t u p
Kita semua prihatin atas musibah bencana yang menimpa saudara-saudara kita di tanah air, sembari berharap semoga kejadian tersebut tidak akan terulang kembali, kalau pun toh memang masih terjadi mestinya kita harus siap dengan segala macam bentuk kepedulian yang dimiliki walaupun seberapa dengan tujuan untuk turut serta meringankan beban derita saudara-saudara yang baru dirundung duka akibat musibah.
Di samping mari kita bersama-sama berdoa semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyanyangi umatnya dengan belas dan kasih-Nya. Mari kita bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan di sekitar kita tidak dieksploitasi secara membabi buta hanya untuk kepentingan pribadi dan devisa belaka, namun perlu melakukan proses rehabilitasi agar tercipta harmoni alam dan tercipta keseimbangan ekologis yang baik. Manakala perilaku kita baik terhadap alam, tentunya alam juga akan berlaku baik kepada kita. Mari berserah diri kepada Tuhan dan menjaga perilaku kita agar tidak merusak ekosistem alam yang telah memberikan kekayaannya kepada kita.